ELINE.NEWS, MAKASSAR — Rencana Pemerintah Kota Makassar untuk melakukan soft launching moda transportasi Penyeberangan Antar Pulau yang akrab dijuluki “pete-pete” laut mendapat respons positif dari parlemen.
Langkah inovatif ini dinilai sebagai terobosan konkret dalam memotong urat nadi isolasi geografis masyarakat wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kota Daeng.
Anggota DPRD Kota Makassar dari Fraksi Mulia, Ray Suryadi, memberikan apresiasi besar terhadap keseriusan pemkot dalam memeratakan aksesibilitas transportasi.
Menurutnya, kehadiran armada ini akan menjadi motor penggerak baru bagi mobilitas harian sekaligus mendongkrak produktivitas ekonomi warga kepulauan yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor kelautan.
Baca juga: DJP Sulselbartra Apresiasi Pemkot Makassar, Munafri Jadi Panutan Lapor SPT Lebih Awal
”Kami di DPRD, khususnya dari Fraksi Mulia, mengapresiasi tinggi inovasi penyeberangan antar pulau ini. Ini adalah jawaban nyata yang sudah lama dinantikan masyarakat pesisir agar mereka memiliki alternatif transportasi publik yang layak, murah, dan terintegrasi,” ujar Ray Suryadi, kamis (11/6).
Warning Biaya Korosif dan Skenario Maintenance Armada
Kendati mendukung penuh, Ray Suryadi menegaskan bahwa pemerintah kota tidak boleh larut dalam euforia seremoni peluncuran semata.
Anggota parlemen ini memberikan catatan kritis yang tajam mengenai keberlanjutan jangka panjang (sustainability) dari operasional armada pete-pete laut tersebut.
Catatan utama yang digarisbawahi Ray adalah mengenai manajemen perawatan (maintenance).
Mengingat seluruh unit armada akan beroperasi penuh di wilayah perairan asin, risiko kerusakan material akibat korosi dipastikan melaju lebih cepat dibandingkan moda transportasi darat.
”Air laut itu memiliki tingkat korosif yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sejak awal pemkot harus sudah menyiapkan skenario perawatan ekstra dan menghitung secara matang biaya penyusutan (depreciation cost) armada. Jangan sampai program bagus ini hanya bertahan satu atau dua tahun lalu mangkrak di dermaga karena kendala biaya perbaikan yang membengkak,” cetus Ray Suryadi
Sertifikasi Awak Kapal: Keselamatan Penumpang Harga Mati
Bukan hanya soal ketahanan fisik kapal, Fraksi Mulia juga menaruh perhatian serius pada faktor keselamatan sekuritas manusia (human security).
Ray Suryadi mendesak dinas terkait untuk memastikan bahwa seluruh nakhoda maupun awak kapal yang memegang kemudi pete-pete laut wajib memiliki kapasitas teknis yang mumpuni (proper) dan mengantongi sertifikasi resmi.
Kondisi cuaca di perairan Makassar, lanjut Ray, kerap kali tidak menentu dan menyimpan risiko tinggi.
Kemampuan membaca navigasi serta mitigasi krisis di tengah laut menjadi prasyarat mutlak bagi para kru kapal.
”Keselamatan penumpang adalah harga mati dan tidak bisa ditawar. Nakhoda dan seluruh awak kapal yang bertugas harus tersertifikasi secara resmi. Mereka wajib memiliki keahlian mumpuni dalam membaca dinamika cuaca dan situasi laut demi menjamin keselamatan warga kita yang menyeberang,” tegas Ray.
Melalui catatan komprehensif ini, Fraksi Mulia berharap proyek pete-pete laut ini tidak sekadar menjadi program mercusuar, melainkan menjelma menjadi warisan pelayanan publik yang aman, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat kepulauan Makassar.











