News

Ketua PIKI Sulsel Soroti Dugaan Ketidakadilan Seleksi Paskibraka, Minta Evaluasi Total Panitia

×

Ketua PIKI Sulsel Soroti Dugaan Ketidakadilan Seleksi Paskibraka, Minta Evaluasi Total Panitia

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS,MAKASSAR — Polemik yang dialami Cathlyn Yvaine Lesmana menuai perhatian berbagai pihak.

Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia Sulawesi Selatan, Dr. Boas Singkali, menyampaikan keprihatinannya atas persoalan yang menimpa generasi muda berprestasi tersebut.

BACA JUGA : Kongres VII PIKI Tegaskan Kepemimpinan Baru, Maruarar Sirait Bawa Arah Kolaborasi Intelektual 2026–2031

Menurut Boas, kasus yang menimpa Cathlyn bukan hanya menyangkut seleksi Paskibraka semata, tetapi juga berkaitan dengan semangat nasionalisme dan kepercayaan generasi muda terhadap sistem pembinaan prestasi di Indonesia.

“Saya sangat menyayangkan kejadian yang dialami Cathlyn Yvaine Lesmana sebagai perwakilan generasi muda Sulawesi Selatan.

Saat ini kita sedang berupaya menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan anak muda, namun justru dicederai oleh hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Boas menilai, peristiwa tersebut menjadi alarm serius karena terjadi berdekatan dengan polemik lain yang sebelumnya juga menyita perhatian publik, yakni kasus Cerdas Cermat Empat Pilar.

“Ada dua kejadian berturut-turut yang dialami generasi muda kita, yaitu kasus Cerdas Cermat Empat Pilar dan kasus Paskibraka di Makassar. Ini tentu tidak boleh dianggap biasa karena dapat berdampak pada menurunnya semangat anak-anak muda untuk berprestasi,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa proses seleksi dalam kegiatan nasional seperti Paskibraka harus menjunjung tinggi prinsip keadilan, transparansi, dan objektivitas.

Sebab, menurutnya, para peserta telah melalui proses panjang dengan kerja keras dan pengorbanan besar.

Boas juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh apabila ditemukan adanya unsur kesengajaan dalam proses seleksi yang menyebabkan peserta tertentu digugurkan secara tidak adil.

“Jika dalam proses pemilihan Paskibraka kemarin memang ada faktor kesengajaan untuk menggugurkan calon yang seharusnya lolos, maka saya meminta pemerintah menindak oknum tersebut dan tidak lagi melibatkan mereka sebagai panitia pada proses seleksi di masa mendatang,” tegasnya.

Menurut dia, pembinaan generasi muda tidak cukup hanya melalui slogan nasionalisme, tetapi juga harus dibuktikan lewat sistem yang bersih dan memberi ruang yang adil bagi seluruh peserta berprestasi.

Boas berharap polemik tersebut menjadi momentum evaluasi agar proses seleksi kegiatan nasional ke depan dapat berlangsung lebih profesional, transparan, dan mampu menjaga kepercayaan publik, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *