ELINE.NEWS, MAKASSAR – Kinerja sektor perbankan di Sulawesi Selatan masih menunjukkan tren yang solid hingga Juni 2026. Di tengah dinamika ekonomi nasional, industri perbankan tetap mencatatkan pertumbuhan pada sejumlah indikator utama, mulai dari aset, penghimpunan dana masyarakat, hingga penyaluran kredit.
Data yang dipaparkan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menunjukkan total aset perbankan tumbuh 5,99 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen dan penyaluran kredit bertambah 5,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: OJK Perkuat Inklusi Keuangan, Investor Pasar Modal Sulsel Terus Bertambah
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan capaian tersebut mencerminkan ketahanan industri perbankan daerah yang tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, fungsi intermediasi perbankan masih berjalan optimal. Hal itu terlihat dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 117,71 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga di angka 3,70 persen. Kondisi tersebut menunjukkan penyaluran kredit masih berlangsung agresif namun tetap diiringi pengelolaan risiko yang terkendali.
Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, tabungan masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai mencapai Rp92,03 triliun atau sekitar 61,45 persen dari total DPK. Deposito menyumbang Rp33,96 triliun, sedangkan giro tercatat sebesar Rp23,77 triliun.
Penyaluran kredit juga masih didominasi pembiayaan produktif yang mencapai Rp91,89 triliun atau sekitar 52,28 persen dari total kredit. Sementara kredit konsumsi mencapai Rp82,50 triliun atau 47,72 persen. Komposisi tersebut menunjukkan sektor usaha tetap menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan di Sulawesi Selatan.
Berdasarkan sektor usaha, perdagangan besar dan eceran menjadi penerima kredit produktif terbesar dengan nilai mencapai Rp37,96 triliun. Posisi berikutnya ditempati sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp16,51 triliun, disusul industri pengolahan Rp7,53 triliun dan konstruksi Rp5,05 triliun.
Secara wilayah, Kota Makassar masih menjadi daerah dengan penyaluran kredit terbesar di Sulawesi Selatan, yakni mencapai Rp83,40 triliun atau sekitar 53,04 persen dari total kredit. Kota Palopo berada di posisi berikutnya dengan Rp10,41 triliun, disusul Kabupaten Bone sebesar Rp6,20 triliun.
Sementara itu, Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen dan Perizinan LJK, Arif Machfoed, menegaskan bahwa penguatan industri jasa keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan perlindungan konsumen serta edukasi keuangan agar masyarakat semakin percaya memanfaatkan layanan keuangan formal.
Di sisi lain, Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan, Ahmad Murad, menilai pertumbuhan sektor keuangan yang sehat memerlukan pengawasan yang konsisten sehingga stabilitas industri tetap terjaga dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
OJK memastikan akan terus memperkuat fungsi pengawasan sekaligus mendorong lembaga jasa keuangan agar mampu menjaga kualitas pembiayaan, meningkatkan layanan kepada masyarakat, serta memperluas akses keuangan di Sulawesi Selatan.











