Edukasi

Di Balik Senyum Habibie, Ada Perjuangan Seorang Ibu Tunggal yang Menitipkan Masa Depan Anaknya kepada Al-Qur’an

×

Di Balik Senyum Habibie, Ada Perjuangan Seorang Ibu Tunggal yang Menitipkan Masa Depan Anaknya kepada Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS, MAKASSAR – Bagi sebagian anak, kehadiran ayah dan ibu menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Namun bagi Habibie Ahmad Shidiq, perjalanan menuju cita-cita harus ditempuh hanya bersama sosok ibu yang tak pernah lelah menjadi sandaran, penyemangat, sekaligus pejuang bagi masa depannya.

Di tengah keterbatasan sebagai orang tua tunggal, Sri Idawati memilih satu jalan yang menurutnya akan menjadi bekal terbaik bagi putranya, yakni mendekatkan Habibie kepada Al-Qur’an.

Baginya, harta dapat habis, jabatan dapat berganti, tetapi ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an akan menjadi cahaya yang menemani anaknya sepanjang kehidupan, bahkan hingga akhirat kelak.

“Alhamdulillah, saya sangat mendukung anak saya menghafal Al-Qur’an karena saya merasa inilah bekal terbaik untuk dunia dan akhiratnya, insya Allah,” ucap Sri Irawati dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

BACA JUGA: Air Mata Inayah di Wisuda Tahfidz RHIS: “Ayah, Ibu… Izinkan Aku Membalas Semua Pengorbanan Kalian”

Habibie yang kini duduk di kelas IX Ranu Harapan Islamic School (RHIS) perlahan terus menapaki perjalanan menghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini, hafalannya telah mencapai juz 27, sebuah capaian yang menurut sang ibu merupakan hasil dari perjuangan panjang yang tidak selalu mudah.

Sebagai anak yatim, Habibie tumbuh dengan berbagai tantangan yang tidak dialami semua anak. Namun Sri Irawati tak pernah ingin keadaan menjadi alasan putranya berhenti bermimpi. Ia percaya, pendidikan adalah jalan yang mampu mengubah masa depan.

Karena itu, ia mengaku sangat bersyukur ketika RHIS membuka kesempatan bagi anak-anak yatim melalui program pendidikan yang meringankan beban keluarga.

“Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Ranu Prima yang menghadirkan kelas tahfidz dan memberikan fasilitas pembebasan biaya SPP bagi anak yatim seperti anak saya. Sebagai orang tua tunggal, bantuan itu sangat berarti dan benar-benar meringankan beban kami,” ungkapnya.

Baca juga: Muhammad Ramli Rahim: Pendidikan Qurani Adalah Warisan Terbaik untuk Masa Depan Bangsa

Menurut Sri Irawati, bantuan tersebut bukan hanya soal biaya pendidikan. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bentuk kepedulian yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk tetap memperoleh pendidikan Islam yang berkualitas tanpa terhalang kondisi ekonomi keluarga.

Meski demikian, perjalanan Habibie dalam menghafal Al-Qur’an tetap membutuhkan perjuangan. Sebagai seorang remaja, ada kalanya ia harus belajar membagi waktu antara pelajaran sekolah, hafalan, dan aktivitas lainnya.

Sri Irawati menyadari putranya belum memanfaatkan seluruh waktunya secara maksimal untuk murojaah. Namun, ia memilih terus mendampingi dengan doa dan motivasi, bukan dengan tekanan.

“Perkembangannya alhamdulillah cukup baik. Memang belum maksimal dalam memanfaatkan waktu untuk menghafal, tetapi saya selalu berusaha memberikan semangat agar ia terus meluangkan waktu mengulang hafalannya. Saya percaya setiap anak memiliki prosesnya masing-masing,” katanya.

Baginya, menjadi orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga menjaga semangat mereka agar tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Sri Irawati berharap perjalanan Habibie bersama Al-Qur’an akan terus berlanjut hingga mampu menyelesaikan hafalan 30 juz. Lebih dari itu, ia ingin putranya tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mencintai Allah, Rasulullah, dan mampu menjadi kebanggaan keluarga.

Ia juga berharap Ranu Harapan Islamic School terus berkembang menjadi sekolah Islam yang semakin maju dan mampu menjangkau lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

“Semoga RHIS semakin berkembang, sukses, terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, dan selalu melahirkan generasi-generasi Qurani yang berakhlak mulia. Semoga semakin banyak anak yang merasakan manfaat seperti yang kami rasakan,” harapnya.

Kisah Sri Irawati dan Habibie menjadi salah satu potret bahwa di balik setiap capaian seorang anak, ada perjuangan seorang ibu yang sering kali tak terlihat.

Ada doa yang dipanjatkan setiap malam, ada pengorbanan yang disembunyikan di balik senyum, dan ada keyakinan bahwa Al-Qur’an akan menjadi warisan paling berharga yang dapat ditinggalkan kepada anak.

Di tengah keterbatasan hidup, Sri Irawati memilih menitipkan masa depan putranya kepada pendidikan dan Al-Qur’an. Sebab ia percaya, ketika seorang anak tumbuh bersama Kalamullah, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *