ELINE. NEWS, MAKASSAR – Tidak semua lembaga pendidikan lahir dari gedung sekolah yang megah. Ada yang tumbuh dari sebuah mimpi sederhana, dibangun dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan. Kisah itulah yang menjadi awal berdirinya Ranu Harapan Islamic School (RHIS).
Empat tahun lalu, RHIS memulai langkahnya dengan fasilitas yang sangat terbatas. Proses belajar mengajar berlangsung di sebuah hotel kecil yang disulap menjadi ruang belajar. Di tempat sederhana itulah cita-cita besar mulai dirajut, menghadirkan sekolah Islam yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk generasi yang mencintai Al-Qur’an dan berakhlak mulia.
Kini, perjalanan itu mulai menunjukkan hasil. RHIS telah berkembang menjadi salah satu sekolah Islam yang terus mendapat kepercayaan masyarakat. Ratusan siswa mengikuti program pendidikan yang memadukan akademik, tahfidz Al-Qur’an, serta pembinaan karakter. Puncaknya terlihat pada Wisuda Tahfidz 2026 yang diikuti 176 murid, menjadi bukti bahwa mimpi yang dahulu dimulai dari ruang sederhana kini telah melahirkan banyak generasi Qurani.
Bagi Muhammad Ramli Rahim, Pembina Yayasan Ranu Prima, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun lembaga pendidikan membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan terhadap tujuan yang ingin dicapai.
“Kami memulai semuanya dengan sangat sederhana. Saat itu proses belajar berlangsung di sebuah hotel kecil. Namun sejak awal kami memiliki satu keyakinan, bahwa jika pendidikan dibangun dengan niat yang baik, Allah akan membuka jalan untuk bertumbuh,” ujarnya.
Ramli mengatakan, sejak awal RHIS tidak pernah didirikan hanya untuk menjadi sekolah dengan capaian akademik yang tinggi. Lebih dari itu, sekolah ini ingin menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kekuatan spiritual.
Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan sekadar mencetak lulusan yang pintar, tetapi melahirkan manusia yang memiliki integritas, akhlak, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Al-Qur’an ditempatkan sebagai fondasi utama dalam proses pendidikan di RHIS.
“Bagi kami, membangun generasi Qurani adalah investasi peradaban. Ketika seorang anak tumbuh bersama Al-Qur’an, ia tidak hanya membawa manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa,” kata Ramli.
Ia meyakini setiap anak yang dibimbing untuk mencintai Al-Qur’an akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kasih sayang. Karakter inilah yang menurutnya menjadi kebutuhan utama Indonesia dalam menyongsong masa depan.
Karena itu, RHIS terus mengembangkan sistem pendidikan yang menyeimbangkan antara akademik, pembinaan karakter, dan program tahfidz. Tujuannya bukan sekadar melahirkan penghafal Al-Qur’an, tetapi mencetak calon pemimpin, profesional, dan intelektual muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Perjalanan dari sebuah hotel kecil hingga menjadi sekolah Islam yang dipercaya masyarakat, menurut Ramli, membuktikan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah.
Ia berharap RHIS tidak berhenti pada capaian hari ini. Ke depan, sekolah tersebut diharapkan terus berinovasi dalam dunia pendidikan, memperkuat kualitas tenaga pendidik, serta menghadirkan lingkungan belajar yang mampu melahirkan generasi Qurani yang unggul, adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap kokoh memegang nilai-nilai Islam.
“Besar kecilnya sebuah sekolah bukan diukur dari gedungnya, tetapi dari manfaat yang diberikan kepada umat. Selama kami mampu menghadirkan anak-anak yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, dan berprestasi, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya,” tutup Muhammad Ramli Rahim.
Perjalanan RHIS menjadi bukti bahwa pendidikan yang dibangun dengan visi, kesabaran, dan komitmen mampu melahirkan perubahan. Dari ruang belajar yang sederhana, kini tumbuh harapan besar untuk menghadirkan generasi Qurani yang kelak menjadi bagian penting dalam membangun peradaban Indonesia.











