ELINE. NEWS, MAKASSAR – Di atas panggung Wisuda Tahfidz Ranu Harapan Islamic School (RHIS), ratusan siswa berdiri dengan senyum bangga.
Namun, bagi Inayah Nur Fadilla Firman, momen itu bukan sekadar tentang capaian hafalan Al-Qur’an.
Di balik senyum yang berusaha ia pertahankan, tersimpan rasa haru yang akhirnya pecah menjadi tetesan air mata
Baca Juga : Perjalanan Menuju Juz 28, Ketika Dukungan Orang Tua dan Guru Menjadi Energi bagi Seorang Penghafal Al-Qur’an
Siswi kelas IX RHIS itu menggenggam erat tangan ibu dan ayahnya, setiap ayat yang berhasil dihafalkan hingga 3 juz Al-Qur’an bukan hanya hasil dari usahanya sendiri, tetapi juga buah dari pengorbanan kedua orang tuanya yang tak pernah berhenti memperjuangkan masa depan anak-anak mereka.
Inayah merupakan anak keempat dari pasangan Firman Akbar dan Anugrawanti. Di tengah keluarganya, ia menjadi satu-satunya anak perempuan yang selalu berusaha memberikan kebanggaan bagi ayah dan ibunya.
Ketika diminta menyampaikan pesan untuk kedua orang tuanya, suara Inayah mulai bergetar. Kalimat demi kalimat keluar perlahan sebelum akhirnya air mata tak lagi mampu ia bendung.
“Sebagai anak, saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah belajar dengan baik dan menjadi anak yang membanggakan orang tua. Itu adalah cara saya membahagiakan mereka,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyadari, tidak mudah bagi kedua orang tuanya membesarkan dan menyekolahkan dirinya bersama saudara-saudaranya. Setiap langkah yang ditempuh ayah dan ibunya penuh dengan perjuangan yang mungkin tak pernah sepenuhnya ia pahami.
“Saya tahu jerih payah ayah dan ibu untuk menyekolahkan saya dan kakak-kakak sangat besar. Semua itu harus saya hargai dengan menjadi anak yang baik dan berprestasi,” tuturnya.
Tangis Inayah semakin pecah ketika menyampaikan ungkapan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.
“Aku bangga menjadi anak ayah dan ibu. Terima kasih sudah membesarkan aku sampai hari ini. Aku tahu tugas ayah dan ibu belum selesai sampai kami benar-benar menjadi seperti yang kalian harapkan. Tapi aku berjanji akan terus belajar, menjaga Al-Qur’an, dan membuat ayah serta ibu bangga,” katanya sambil mengusap air mata.
Suasana ballroom mendadak hening. Sejumlah orang tua yang menyaksikan momen tersebut ikut larut dalam haru. Tak sedikit yang terlihat menyeka air mata ketika mendengar ketulusan seorang anak yang ingin membalas kasih sayang kedua orang tuanya melalui prestasi dan akhlak yang baik.
Usai menyampaikan pesannya, Inayah langsung dipeluk erat oleh sang ibu, Anugrawanti. Pelukan hangat itu menjadi jawaban atas semua kata-kata yang baru saja terucap. Air mata keduanya mengalir tanpa mampu disembunyikan.
Dengan suara yang masih bergetar, Anugrawanti mengaku bangga melihat perkembangan putrinya selama menempuh pendidikan di RHIS. Baginya, keberhasilan Inayah bukan hanya diukur dari hafalan Al-Qur’an yang telah dicapai, tetapi dari perubahan sikap, kedewasaan, dan kecintaan anaknya terhadap agama.
“Sebagai orang tua, tugas kami adalah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kami ingin mereka tidak hanya berhasil dalam pendidikan formal, tetapi juga memiliki bekal agama yang kuat, mencintai Rasulullah, mencintai agamanya, dan selalu menghormati kedua orang tuanya,” ujarnya.
Baca Juga: Muhammad Ramli Rahim: Pendidikan Qurani Adalah Warisan Terbaik untuk Masa Depan Bangsa
Anugrawanti menilai Ranu Harapan Islamic School telah menjadi mitra penting bagi keluarga dalam mendidik anak-anak. Menurutnya, sekolah tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang mampu membentuk karakter Islami sejak dini.
“Menurut saya RHIS adalah salah satu sekolah Islam terbaik. Guru-gurunya sangat baik, sabar membimbing anak-anak, dan komunikasi antara sekolah dengan orang tua juga berjalan sangat baik. Kami sebagai orang tua merasa dilibatkan dalam proses pendidikan anak,” katanya.
Ia berharap RHIS terus berkembang, menghadirkan berbagai inovasi pendidikan, dan semakin banyak melahirkan generasi Qurani yang unggul, cerdas, serta berakhlak mulia.
Di balik prosesi Wisuda Tahfidz RHIS 2026, kisah Inayah menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang anak tidak pernah lahir dari perjuangannya sendiri. Ada ayah yang bekerja tanpa lelah, ada ibu yang tak henti memanjatkan doa di setiap sujudnya, serta ada guru-guru yang dengan penuh kesabaran membimbing setiap ayat hingga melekat dalam hati anak didiknya.
Dan bagi Inayah, wisuda itu bukanlah garis akhir. Itu adalah awal dari sebuah janji yang ia ucapkan di hadapan kedua orang tuanya janji untuk terus menjaga Al-Qur’an, menjaga akhlak, dan suatu hari nanti membalas seluruh pengorbanan yang telah mereka berikan dengan kebanggaan yang tak akan pernah putus.











