ELINE.NEWS,MAKASSAR – Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Melihat peluang tersebut, PT Haka Auto sebagai dealer utama BYD semakin agresif memperluas jaringan penjualan sekaligus memperkenalkan teknologi terbaru untuk mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa.
Hal itu disampaikan CEO Haka Auto, Haerady Kaimuddin, saat menghadiri pameran otomotif di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (26/7/2026). Ia menilai percepatan elektrifikasi transportasi nasional semakin terlihat seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Baca juga: Penjualan BYD Juni 2026 Melonjak, Haka Auto Ikut Catat Tren Positif
Menurut Haerady, dalam dua tahun terakhir Haka Auto berhasil memperluas jaringan dealer BYD di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Saat ini sebanyak 22 dealer telah resmi beroperasi, sementara sekitar 10 outlet lainnya masih dalam tahap pembangunan. Hingga akhir tahun 2026, Haka Auto menargetkan total jaringan mencapai 35 hingga 40 dealer di seluruh Indonesia.
Ia juga mengungkapkan bahwa kontribusi kendaraan listrik terhadap penjualan mobil nasional terus meningkat dan kini mendekati 20 persen. Angka tersebut dinilai menjadi lompatan besar dibanding beberapa tahun sebelumnya yang masih berada pada kisaran 5 hingga 15 persen.
Selain memperluas jaringan, BYD juga menawarkan teknologi Dual Mode (DM-i) sebagai solusi bagi konsumen yang masih khawatir dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Teknologi plug-in hybrid tersebut memungkinkan kendaraan melaju hingga 100 kilometer menggunakan tenaga listrik murni untuk kebutuhan harian, kemudian beralih ke mesin berbahan bakar saat digunakan menempuh perjalanan jarak jauh.
Respons pasar terhadap teknologi DM-i disebut sangat positif. Secara nasional, jumlah Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk varian tersebut mencapai dua kali lipat dibanding model listrik murni. Bahkan, di wilayah luar Pulau Jawa, permintaannya diperkirakan dapat meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat.
Di sisi lain, BYD juga menyiapkan inovasi terbaru berupa teknologi Flash Charging berkekuatan 1,5 megawatt atau 1.500 kW. Teknologi ini memungkinkan pengisian daya baterai dari 10 persen hingga 70 persen hanya dalam lima menit, sementara pengisian hingga 90 persen dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tujuh menit.
Haerady menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari komitmen besar BYD terhadap riset dan pengembangan. Perusahaan disebut memiliki lebih dari 100 ribu insinyur riset yang terus mengembangkan berbagai teknologi baru untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Ia juga melihat peluang pertumbuhan pasar kendaraan listrik di luar Pulau Jawa masih sangat besar. Saat ini, sekitar 70 persen penjualan kendaraan listrik nasional masih terpusat di Jabodetabek, disusul Pulau Jawa sekitar 20 persen, sedangkan wilayah luar Jawa baru menyumbang sekitar 5 hingga 6 persen.
Menurutnya, penggunaan kendaraan listrik bukan hanya memberikan efisiensi biaya operasional bagi masyarakat, tetapi juga mendukung kemandirian energi nasional melalui pengurangan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Selain itu, pemanfaatan energi listrik dari sumber daya domestik dinilai mampu menekan emisi karbon dan meningkatkan kualitas lingkungan.
Haerady optimistis investasi pabrik BYD di Subang yang bernilai triliunan rupiah, ditambah pengembangan jaringan dealer secara berkelanjutan, akan memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia sekaligus membuat teknologi ramah lingkungan semakin mudah dijangkau masyarakat.











