ELINE.NEWS, JENEPONTO — Lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Jeneponto menjelang Idulfitri tak hanya memicu antrean di SPBU, tetapi juga mengerek harga di tingkat pengecer.
Di tengah kondisi itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah ini murni lonjakan musiman, atau ada persoalan di rantai distribusi?
Baca juga: Diduga Terjadi Pelangsiran, Pertamina Hentikan Penyaluran Biosolar di SPBU Sudiang Makassar
Lonjakan cepat, distribusi tak selalu siap
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mengakui adanya peningkatan signifikan konsumsi dalam beberapa hari terakhir.
Sales Branch Manager Sulselbar II Fuel, Muhammad Ridho Hasbullah, menyebut permintaan meningkat seiring mobilitas Lebaran.
“Terjadi peningkatan demand dalam beberapa hari terakhir. Kami melakukan percepatan recovery stok agar kebutuhan masyarakat terpenuhi,” ujarnya.
Namun di lapangan, distribusi yang “dikejar” ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan konsumsi yang terjadi secara serentak.
Harga eceran naik: gejala klasik atau indikasi masalah?
Di luar SPBU resmi, harga Pertalite dilaporkan mengalami kenaikan. Kondisi ini lazim terjadi saat pasokan tersendat, tetapi juga kerap menjadi indikator adanya celah dalam pengawasan distribusi.
Lilik Hardiyanto, Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, menegaskan bahwa harga resmi hanya berlaku di SPBU.
“Di luar jalur resmi berada di luar pengawasan kami,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus membuka ruang tafsir:
seberapa besar kontrol distribusi di tingkat hilir benar-benar berjalan efektif?
Celah distribusi: ruang bagi spekulasi?
Dalam kondisi pasokan tertekan, rantai distribusi BBM rentan terhadap beberapa praktik yang sulit terdeteksi secara kasat mata, seperti:
pembelian berulang dalam jumlah besar
penjualan kembali di tingkat eceran
distribusi tidak merata antar wilayah
Fenomena ini bukan hal baru, terutama di daerah dengan tingkat pengawasan terbatas.
Meski belum ada bukti pelanggaran dalam kasus Jeneponto, pola kenaikan harga di luar SPBU menjadi sinyal yang patut dicermati.
Panic buying memperparah situasi
Selain faktor distribusi, perilaku konsumsi masyarakat juga berperan besar.
Ketika muncul persepsi kelangkaan:
masyarakat cenderung membeli lebih banyak
permintaan melonjak tidak wajar
distribusi semakin tertekan
Efek domino ini sering kali mempercepat krisis yang sebenarnya masih bisa dikendalikan.
Respons Pertamina: percepatan dan pengawasan
Sebagai respons, Pertamina Patra Niaga melakukan:
percepatan suplai BBM ke SPBU
penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah
peningkatan pengawasan distribusi
Namun, efektivitas langkah ini akan sangat ditentukan oleh kondisi di lapangan, terutama pada titik distribusi terakhir.
Ujian tahunan yang berulang
Kasus Jeneponto kembali menegaskan pola yang hampir selalu muncul setiap momentum Lebaran:
lonjakan konsumsi mendadak
tekanan distribusi
kenaikan harga di tingkat informal
Ini menunjukkan bahwa persoalan distribusi energi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal tata kelola dan pengawasan yang konsisten.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Soal Stok
Kondisi Pertalite di Jeneponto bukan semata persoalan stok yang menipis.
Lebih dari itu, situasi ini mencerminkan:
kerentanan rantai distribusi
keterbatasan pengawasan di tingkat hilir
serta dinamika perilaku konsumsi masyarakat
Tanpa perbaikan menyeluruh, pola serupa berpotensi terus berulang setiap momen puncak konsumsi.











