ELINE.NEWS, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat keamanan ekosistem keuangan digital dan pelindungan konsumen sebagai fondasi untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Selain itu, langkah tersebut bertujuan memastikan inovasi keuangan digital memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menyampaikan hal tersebut dalam Leader’s Insight pada Casual Talk bertema “Menjaga Kepercayaan, Mengawal Inovasi: Ekosistem Digital yang Aman dan Berdaulat”.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 di Jakarta, Jumat.
Dalam sesi tersebut, Dicky menyampaikan bahwa inovasi digital memiliki peran strategis dalam mendorong produktivitas nasional. Bahkan, inovasi digital menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Inovasi digital kita itu tujuannya adalah untuk mendorong produktivitas yang akhirnya menjadi engine of growth kita, dengan visi atau target pertumbuhan ekonomi kita sebesar 8 persen,” kata Dicky.
Sementara itu, sektor jasa keuangan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan inovasi teknologi dengan pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Dicky, inovasi membutuhkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan membutuhkan kolaborasi. Karena itu, pelindungan konsumen tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah terjadi, tetapi harus berjalan secara proaktif dan preventif sejak awal.
Selanjutnya, Dicky menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi fondasi utama agar inovasi keuangan digital dapat dimanfaatkan secara luas dan berkelanjutan.
Kepercayaan tersebut perlu dijaga sepanjang perjalanan konsumen, mulai dari desain produk, pemasaran, penggunaan layanan, hingga penanganan pengaduan dan pemulihan hak konsumen.
Penipuan Digital Membutuhkan Kolaborasi
Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa perkembangan layanan keuangan digital yang pesat juga diikuti meningkatnya modus penipuan digital atau scam yang melibatkan berbagai platform sekaligus.
“Penipuan digital bersifat lintas sistem, sehingga penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas lembaga. Melalui satu pintu pelaporan yang terhubung dengan berbagai lembaga, kita ingin memastikan setiap laporan masyarakat dapat ditangani secara cepat, terpadu, dan tuntas,” tegas Dicky.
Untuk memperkuat pelindungan konsumen, OJK telah memiliki sejumlah fondasi. Instrumen tersebut meliputi pengawasan perilaku pelaku usaha jasa keuangan, Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK), Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), dan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).
Ke depan, seluruh instrumen tersebut perlu bekerja sebagai satu ekosistem yang terintegrasi.
Karena itu, OJK mendorong penguatan sinergi dengan Bank Indonesia serta kementerian dan lembaga terkait dalam membangun satu sistem pelaporan penipuan.
Pada casual talk tersebut, hadir Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen Bank Indonesia Sally Marintan Hutapea, Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Djoko Kurnijanto, serta perwakilan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) sebagai panelis.
Pembahasan dalam sesi tersebut mencakup upaya menjaga kepercayaan masyarakat, pemanfaatan inovasi untuk keamanan ekosistem, resiliensi ekosistem digital, serta kolaborasi antarotoritas dan industri.
Membangun Talenta Digital dan Mendorong Inovasi
Hari kedua FEKDI x IFSE 2026 mengusung tema “Membangun Talenta Digital dan Mendorong Inovasi untuk Memperkuat Daya Saing Ekonomi Keuangan Digital Indonesia”.
Rangkaian kegiatan diawali Signature Moment Talenta Digital untuk Indonesia Maju oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno.
Kegiatan tersebut juga diikuti sejumlah menteri, jajaran OJK, serta pimpinan asosiasi industri.
Selain itu, OJK berpartisipasi dalam Casual Talk bertema “Strategi dan Pemanfaatan Inovasi Digital sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi”.
Dalam sesi tersebut, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan IAKD OJK Gonthor Ryantori Aziz menyampaikan bahwa strategi regulasi digital OJK diarahkan untuk menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas sistem keuangan melalui tiga pilar.
Ketiga pilar tersebut yaitu ruang uji coba atau sandbox, standar dasar yang kuat, serta evaluasi berbasis bukti.
Regulatory Sandbox menjadi jembatan antara inovasi dan kepatuhan. Melalui sandbox, manfaat dan risiko inovasi diuji secara terbatas sebelum dipasarkan secara luas.
Namun, kelulusan dari sandbox tidak otomatis memberikan izin usaha. Oleh karena itu, peserta tetap wajib menindaklanjuti proses perizinan atau pendaftaran.
Sinergi Otoritas Perkuat Ekosistem Digital
Layanan keuangan yang semakin terintegrasi menuntut pengawasan lintas otoritas yang lebih solid.
Karena itu, sinergi OJK, Bank Indonesia, serta kementerian dan lembaga terkait diperlukan agar ekosistem keuangan digital tetap inovatif, aman, dan terpercaya.
Selain sesi utama, FEKDI x IFSE 2026 hari kedua juga menghadirkan Digital Talent Expo, business matching, serta talkshow di mini stage.
Rangkaian tersebut menampilkan berbagai inisiatif industri dalam memperluas inklusi keuangan dan pembiayaan UMKM.











