BUSINESSNEWS

Telkom Percepat Transformasi TLKM 30, Pendapatan Kuartal III Tembus Rp113,5 Triliun

×

Telkom Percepat Transformasi TLKM 30, Pendapatan Kuartal III Tembus Rp113,5 Triliun

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS, JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berhasil mempertahankan pertumbuhan kinerja sepanjang sembilan bulan pertama 2026 di tengah dinamika industri telekomunikasi. Pada saat yang sama, perseroan terus melanjutkan pelaksanaan transformasi melalui strategi TLKM 30.

Hingga penutupan kuartal III 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun atau tumbuh 3,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan tersebut didorong kontribusi bisnis Data, Internet & IT Services yang meningkat 8,3% YoY menjadi Rp71,5 triliun.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat sebesar Rp55,5 triliun atau tumbuh 2,0% YoY, dengan margin EBITDA 48,9%. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp14,4 triliun dengan margin 12,7%.

Adapun laba bersih normalisasi perseroan meningkat 3,9% YoY menjadi Rp16,5 triliun, dengan margin sebesar 14,6%.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menyampaikan bahwa perseroan terus menjalankan arah strategis TLKM 30 dengan berfokus pada penguatan bisnis inti dan pelaksanaan transformasi yang memberikan manfaat nyata.

“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang.

Empat Segmen Bisnis Utama Catatkan Pertumbuhan Positif

Pada segmen B2C yang mencakup layanan Mobile dan Fixed Broadband, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5% YoY.

Sementara itu, Telkomsel mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,8% YoY menjadi Rp82,9 triliun. Kinerja tersebut terutama ditopang bisnis digital yang tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp60,7 triliun.

Pertumbuhan ini didukung pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, serta penerapan strategi komersial yang disiplin. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat monetisasi layanan seluler seiring perubahan pola konsumsi pelanggan menuju layanan digital.

Hasilnya, rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) seluler Telkomsel meningkat 7,1% YoY menjadi Rp45.400. Selain itu, data yield juga tumbuh 6,5% YoY.

Di sisi lain, pendapatan bisnis IndiHome tercatat sebesar Rp19,1 triliun, salah satunya seiring dengan penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan secara kuartalan.

Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi 9,63 juta pelanggan. Sementara itu, ARPU naik 3,2% QoQ menjadi Rp217.700.

B2B Infrastructure Tumbuh, Bisnis Data Center Menguat

Pada segmen B2B Infrastructure, Telkom mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,5% YoY menjadi Rp7,1 triliun. Kinerja ini didukung layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur TelkomGroup.

Mitratel membukukan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan FTTT sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8% YoY. Berkat efektivitas pengelolaan biaya yang semakin baik, Mitratel mencatatkan EBITDA sebesar Rp5,81 triliun, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, laba bersih Mitratel mencapai Rp1,55 triliun. Margin EBITDA dan margin laba bersih masing-masing tetap stabil pada level 82,9% dan 22,2%.

Sejalan dengan pengembangan infrastruktur digital, NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 17% YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA perusahaan juga meningkat 35% YoY dengan margin EBITDA mencapai 40,9%.

Pertumbuhan tersebut didukung kontribusi data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta komputasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui layanan Neutra Compute.

Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). Target tersebut disiapkan untuk mengantisipasi tingginya permintaan pasar terhadap layanan data center.

Untuk mendukung rencana pengembangan tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, dan pendanaan.

Segmen B2B ICT dan International Ikut Tumbuh

Segmen B2B ICT membukukan pendapatan sebesar Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1% YoY. Pertumbuhan terutama didorong oleh segmen usaha kecil dan menengah (Small Medium Enterprises/SME), yang mencatatkan kenaikan pendapatan 10,2% YoY menjadi Rp3,3 triliun.

Pencapaian tersebut didukung pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9% YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan. Selain itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga mengalami pertumbuhan 6,2% YoY pada periode yang sama.

Kinerja positif juga terlihat pada segmen International. Pendapatan segmen ini meningkat 5,8% YoY menjadi Rp8,9 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama didukung pendapatan jaringan yang naik 50,2% YoY menjadi Rp1,37 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan penguatan layanan konektivitas internasional bagi pelanggan global hyperscalers dan global carriers.

Dari sisi infrastruktur, Telin terus memperluas konektivitas internasional melalui pengembangan jaringan kabel laut. Salah satunya melalui proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026, serta proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.

Pengembangan infrastruktur tersebut turut mendukung posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.

“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” tambah Nanang.

Streamlining Jadi Prioritas, TelkomGroup Percepat Transformasi TLKM 30

Telkom terus menjalankan transformasi melalui inisiatif strategis TLKM 30 yang memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.

Transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi proses dan kualitas layanan, memfokuskan portofolio pada bisnis inti, mengoptimalkan nilai aset melalui monetisasi dan kolaborasi strategis, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding guna mendorong sinergi dan penciptaan nilai jangka panjang.

Pada pilar Operational & Service Excellence, TelkomGroup terus menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas. Langkah ini dilakukan untuk mendukung efisiensi operasional, keberlanjutan investasi, serta peningkatan kualitas layanan.

Kinerja arus kas tetap terjaga melalui pengelolaan kas yang disiplin, di tengah penyesuaian pembayaran operasional dan karyawan. Penyesuaian tersebut termasuk pembayaran terkait program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP) guna mendorong struktur organisasi yang lebih efektif dan produktif.

Selanjutnya, pada pilar Streamlining, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas hingga kuartal III 2026. Penataan tersebut mencakup divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.

Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan (capex-to-revenue ratio) sebesar 13,8%.

Sebanyak 94,3% belanja modal dialokasikan pada segmen B2C dan B2B Infrastructure untuk memperluas kapabilitas konektivitas digital.

Nanang menyampaikan bahwa penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi bagian penting dalam pelaksanaan transformasi perusahaan.

“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” jelas Nanang.

Sementara itu, salah satu tonggak penting dalam pilar Unlock Value adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.

Melalui langkah tersebut, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access. Model ini memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.

“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” tutup Nanang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *