Edukasi

OJK Sulselbar Dorong Diversifikasi Investasi Lewat Reksa Dana

×

OJK Sulselbar Dorong Diversifikasi Investasi Lewat Reksa Dana

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS,MAKASSAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat terus memperluas upaya edukasi keuangan dengan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan memanfaatkan reksa dana sebagai alternatif investasi.

Dorongan tersebut disampaikan Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 yang digelar di Makassar, Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye literasi keuangan yang juga melibatkan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) serta Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca juga: OJK Gandeng PBNU dan BGN Perluas Akses Keuangan Syariah di Pesantren

Dalam kesempatan itu, Muchlasin menyoroti masih kuatnya kebiasaan masyarakat yang hanya mengandalkan tabungan atau deposito sebagai sarana menyimpan dana. Menurutnya, kedua instrumen tersebut memang menawarkan keamanan, namun belum cukup efektif untuk mendorong pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.

“Tabungan itu penting untuk likuiditas, tetapi jika berbicara pengembangan nilai, tentu perlu instrumen lain yang lebih produktif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, suku bunga tabungan dan deposito yang relatif rendah membuat potensi pertumbuhan dana menjadi terbatas. Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai mempertimbangkan diversifikasi investasi agar hasil yang diperoleh bisa lebih optimal.

Lebih lanjut, Muchlasin mengungkapkan bahwa tingkat literasi masyarakat terhadap pasar modal masih tertinggal dibandingkan sektor perbankan. Kondisi ini tercermin dari rendahnya pemahaman serta partisipasi masyarakat dalam instrumen investasi non-perbankan.

“Literasi pasar modal masih di bawah 20 persen, sementara inklusinya bahkan lebih kecil. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan jumlah investor di Sulawesi Selatan menunjukkan tren yang cukup positif. Hingga awal 2026, jumlah investor tercatat meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, kontribusi daerah terhadap jumlah investor nasional masih tergolong kecil.

Menurut Muchlasin, kelompok usia muda memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan tersebut. Dengan jumlah populasi yang besar, generasi muda dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi investor baru di pasar modal.

“Segmentasi usia produktif ini menjadi target utama edukasi, karena mereka memiliki waktu investasi yang panjang dan peluang pertumbuhan aset yang lebih besar,” jelasnya.

Salah satu instrumen yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah reksa dana. Produk ini dinilai cocok bagi investor pemula karena tidak memerlukan modal besar dan dikelola oleh manajer investasi profesional.

Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba, menjelaskan bahwa reksa dana merupakan wadah pengelolaan dana kolektif yang ditempatkan pada berbagai instrumen keuangan seperti pasar uang, obligasi, maupun saham.

“Investor tidak perlu memiliki keahlian khusus, karena seluruh pengelolaan dilakukan oleh pihak profesional,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep diversifikasi dalam reksa dana menjadi salah satu keunggulan utama. Dengan menyebar investasi ke berbagai aset, risiko kerugian dapat ditekan dibandingkan jika dana hanya ditempatkan pada satu instrumen.

Selain itu, reksa dana juga menawarkan fleksibilitas bagi investor dalam memilih produk sesuai dengan profil risiko masing-masing, mulai dari risiko rendah hingga tinggi.

Dalam pemaparannya, APRDI juga menjelaskan bahwa kinerja reksa dana diukur melalui Nilai Aktiva Bersih (NAB), yang mencerminkan nilai total aset setelah dikurangi kewajiban. Perubahan NAB inilah yang menentukan nilai investasi yang dimiliki investor.

Meski demikian, masyarakat diingatkan bahwa investasi tidak lepas dari risiko. Nilai investasi dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar, sehingga diperlukan pemahaman yang baik sebelum mengambil keputusan.

“Tidak ada instrumen investasi yang sepenuhnya bebas risiko. Yang penting adalah memahami karakter produk dan tujuan investasi,” tegas Marsangap.

OJK juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap penawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat. Edukasi mengenai legalitas produk menjadi bagian penting dalam melindungi masyarakat dari potensi kerugian.

Seiring perkembangan teknologi, akses terhadap produk reksa dana kini semakin mudah melalui berbagai platform digital. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam kegiatan investasi.

Melalui berbagai program edukasi yang berkelanjutan, OJK berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan dapat terus meningkat. Reksa dana pun diharapkan menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu masyarakat mencapai tujuan keuangan secara lebih terencana dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *