ELINE.NEWS, MAKASSAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat edukasi sektor jasa keuangan dengan melibatkan kalangan mahasiswa. Melalui program OJK Mengajar, mahasiswa didorong menjadi agen literasi keuangan sekaligus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kegiatan tersebut berlangsung di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (3/11/2026), dengan mengangkat tema “Kenali, Pahami, dan Jelajahi OJK dan Sektor Jasa Keuangan”.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) OJK ke-15.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Hernawan B. Sasongko, mengatakan mahasiswa memiliki peran strategis dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai industri jasa keuangan.
Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti kegiatan akademik dapat diteruskan kepada keluarga, teman, hingga lingkungan sosial mereka.
Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami berbagai produk dan layanan keuangan, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan melalui penyebaran informasi yang benar kepada masyarakat.
Hernawan menjelaskan, OJK memiliki tugas mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen. Langkah tersebut bertujuan menjaga industri keuangan tetap sehat, berkelanjutan, serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
Selain memperluas edukasi, OJK juga mendorong industri jasa keuangan mengambil peran lebih besar dalam pengembangan sektor ekonomi produktif di daerah.
Upaya tersebut dilakukan melalui dukungan pembiayaan, peningkatan produktivitas, penguatan rantai pasok, hingga perluasan akses pasar bagi berbagai komoditas unggulan.
Di wilayah Sulawesi, pengembangan ekonomi tersebut mencakup komoditas kakao, pisang Cavendish, dan rumput laut.
Untuk komoditas kakao, penguatan dilakukan melalui peningkatan produktivitas perkebunan, perbaikan kualitas biji kakao melalui proses fermentasi, serta pengembangan produk cokelat bernilai tambah.
Sementara itu, pengembangan pisang Cavendish diarahkan pada peningkatan kualitas budi daya, pemenuhan standar pasar, penguatan rantai pasok, dan perluasan akses kepada pembeli atau offtaker.
Hernawan berharap industri jasa keuangan tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat di daerah.
Ia juga mendorong mahasiswa mulai membangun jiwa kewirausahaan sejak bangku kuliah. Dengan begitu, generasi muda dapat menciptakan peluang usaha sekaligus membuka kontribusi baru terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
OJK Ingatkan Mahasiswa Waspadai Penipuan Keuangan
Di sisi lain, OJK mengingatkan generasi muda agar lebih cermat dalam memanfaatkan layanan keuangan digital.
Hernawan menyoroti sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari perilaku konsumtif, fear of missing out (FOMO), penyalahgunaan data pribadi, investasi ilegal, hingga penipuan transaksi keuangan digital.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami manfaat dan risiko setiap produk keuangan serta memastikan legalitas penyelenggara sebelum menggunakan layanan yang ditawarkan.
Bagi masyarakat yang mengalami persoalan terkait produk dan layanan jasa keuangan, OJK menyediakan layanan pengaduan melalui Kontak OJK 157.
Sementara itu, korban penipuan transaksi keuangan diimbau segera melaporkan kejadian tersebut melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) agar dapat ditindaklanjuti secepatnya.
Wakil Rektor Unhas, Subehan, turut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan OJK Mengajar. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan civitas academica untuk memperoleh wawasan langsung dari praktisi sektor jasa keuangan.
Kolaborasi antara OJK dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran sekaligus meningkatkan kesiapan mahasiswa ketika terjun ke tengah masyarakat.
OJK Perkuat Literasi dan Pembiayaan Keuangan Syariah
Selain di Universitas Hasanuddin, program OJK Mengajar juga berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menekankan pentingnya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Melalui kuliah umum bertema “Pembiayaan Syariah: Tantangan, Peluang, dan Prospek”, Agusman menjelaskan bahwa keuangan syariah memiliki potensi besar dalam mendorong pemerataan akses keuangan, meningkatkan kegiatan ekonomi produktif, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Ia menilai edukasi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan industri keuangan syariah. Karena itu, perguruan tinggi dan mahasiswa perlu terlibat aktif dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai prinsip, karakteristik, manfaat, serta produk pembiayaan syariah.
Menurut Agusman, pembiayaan syariah juga dapat mendukung pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat sektor ekonomi yang memiliki potensi untuk berkembang.
Berdasarkan data OJK per Agustus 2026, total aset sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) syariah mencapai Rp134,58 triliun atau 11,77 persen dari keseluruhan aset industri PVML.
Adapun pembiayaan PVML syariah tercatat sebesar Rp125,85 triliun. Angka tersebut tumbuh 13,50 persen secara tahunan dengan jumlah rekening mencapai 12,31 juta.
Agusman melihat peluang pengembangan industri PVML syariah masih terbuka luas, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan UMKM, memperluas akses masyarakat yang belum terlayani lembaga keuangan, serta mendukung pembiayaan dalam rantai nilai industri halal.
Namun, pengembangan tersebut perlu diikuti penguatan kapasitas pendanaan, kualitas sumber daya manusia, tata kelola, manajemen risiko, serta inovasi produk dan akad yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk mendukung arah pengembangan industri tersebut, OJK tengah menyusun Roadmap PVML Syariah. Peta jalan ini diarahkan untuk memperkuat pembiayaan produktif dan UMKM, mengembangkan ekosistem ekonomi syariah, serta memperluas akses keuangan melalui digitalisasi.
Agusman juga mengajak perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian, inovasi produk syariah, peningkatan literasi, dan penyiapan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang akad syariah, manajemen risiko, teknologi, serta analisis pembiayaan.
Sinergi antara kampus, industri keuangan syariah, UMKM, dan pelaku industri halal diharapkan mampu memperluas manfaat pembiayaan syariah bagi masyarakat.
OJK Tekankan Prinsip Legal dan Logis
Dalam pemanfaatan produk dan layanan keuangan, Agusman mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis.
Artinya, masyarakat harus memastikan penyelenggara jasa keuangan memiliki izin dari OJK. Selain itu, setiap penawaran manfaat maupun imbal hasil perlu dicermati kewajarannya.
Masyarakat juga diminta tidak mudah tergiur dengan tawaran keuntungan tinggi dan pasti tanpa risiko karena pola tersebut patut diwaspadai.
Rektor UIN Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis, turut menekankan bahwa pengembangan pembiayaan syariah harus berlandaskan nilai dan substansi syariah serta memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
Akses permodalan diharapkan tidak hanya membantu kegiatan ekonomi, tetapi juga memperkuat tanggung jawab sosial, menjaga martabat penerima pembiayaan, dan meningkatkan kesejahteraan.
Melalui pelaksanaan OJK Mengajar di Unhas dan UIN Alauddin Makassar, OJK memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang memahami sektor jasa keuangan.
Langkah ini sekaligus diharapkan memperluas penyebaran literasi keuangan, meningkatkan pemanfaatan layanan keuangan syariah, serta mendorong kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan ekonomi daerah.











