ELINE.NEWS,PINRANG — Potensi kerajinan berbahan alam yang tumbuh di tengah masyarakat Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, mulai mendapat perhatian lebih serius. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia, masyarakat di tiga desa binaan didorong untuk mengubah potensi lokal menjadi produk UMKM yang lebih inovatif, bernilai jual, dan mampu bersaing di era digital.
Semangat tersebut terasa dalam seminar kewirausahaan yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Patampanua, dengan melibatkan masyarakat dari Desa Pincara, Desa Teppo, dan Desa Lempangang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya dosen dan mahasiswa KKN ITB Nobel Indonesia dalam memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat, khususnya para pelaku UMKM dan calon wirausaha desa.
Ketiga desa tersebut menyimpan kekayaan potensi lokal. Salah satunya adalah keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan alam seperti daun pisang dan daun lontara menjadi berbagai produk kerajinan, termasuk tas. Kreativitas tersebut dinilai memiliki peluang ekonomi yang besar apabila dikembangkan melalui pengelolaan usaha, pengemasan, serta strategi pemasaran yang lebih modern.
Namun, perkembangan teknologi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan baru. Para pelaku UMKM tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Mereka dituntut mampu memahami kebutuhan konsumen, menghitung biaya produksi, menentukan harga secara tepat, membangun identitas produk, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Hal inilah yang menjadi perhatian tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) ITB Nobel Indonesia dalam pelaksanaan KKN Tematik di Patampanua.
Dr. Hariatih, SE., M.Ak., selaku DPL Desa Pincara sekaligus koordinator rangkaian seminar kewirausahaan, bersama DPL Desa Teppo Dr. Fitri, SE., M.Ak., dan DPL Desa Lempangang Raden, SE., S.Kom., M.Kom., menilai bahwa tantangan utama UMKM di wilayah tersebut bukan terletak pada kualitas produknya.
Menurut mereka, persoalan justru berada pada bagaimana produk tersebut dikemas, dipasarkan, dan dikelola agar sesuai dengan perkembangan zaman.
“Konsumen saat ini tidak hanya mencari produk yang murah, tetapi juga menginginkan kualitas, keunikan, kemudahan transaksi, pelayanan cepat, dan pengalaman digital. Oleh karena itu, UMKM di sini harus mampu menghitung biaya produksi dengan cermat agar mengetahui keuntungan yang diperoleh, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk pemasaran dan manajemen usaha,” ujar Hariatih.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Pincara Amriani, S.S.Ak., Kepala Desa Teppo Firmansyah, serta Kepala Desa Lempangang Abbas Paduai, S.E., menyambut positif keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Bagi pemerintah desa, kehadiran dosen dan mahasiswa KKN tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri masyarakat dalam mengembangkan usaha.
Amriani mengatakan bahwa desa di Patampanua memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh, tidak hanya sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga sebagai daerah yang mampu menghasilkan produk unggulan.
“Kami ingin desa-desa di Patampanua tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga menjadi pusat keunggulan UMKM. Di Desa Pincara, misalnya, kami sudah mulai mengembangkan pembuatan tas berbahan alami seperti daun pisang dan daun lontara. Ini adalah potensi besar yang harus dikelola dengan baik,” ungkap Amriani.
Dalam seminar tersebut, peserta mendapatkan materi yang tidak hanya bersifat teoritis. Berbagai topik praktis diberikan, mulai dari pengemasan produk (packaging), strategi pemasaran digital, pemanfaatan platform e-commerce, hingga perhitungan biaya produksi.
Sesi perhitungan biaya produksi menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan. Para peserta diajak memahami berapa modal yang sebenarnya dikeluarkan untuk menghasilkan sebuah produk, sehingga mereka dapat menentukan harga jual dan mengetahui keuntungan secara lebih akurat.
Mahasiswa KKN ITB Nobel Indonesia turut terlibat aktif sebagai fasilitator dan pendamping. Mereka membantu masyarakat mengenal berbagai platform digital yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk UMKM secara lebih luas.
Dengan demikian, produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar diharapkan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas melalui kanal digital.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Sebagian besar peserta berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan generasi muda yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan usaha maupun keterampilan yang sudah mereka miliki.
Bagi masyarakat, pendampingan semacam ini membuka wawasan baru bahwa keterampilan sederhana yang selama ini dilakukan di lingkungan rumah dan desa ternyata dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Mereka juga berharap program pendampingan tidak berhenti pada seminar, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk pembinaan, praktik, serta pengembangan produk secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, mahasiswa KKN, dan masyarakat pun diharapkan mampu menjadi fondasi bagi lahirnya ekosistem UMKM yang lebih kuat di Kecamatan Patampanua.
Bukan hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, pengembangan UMKM berbasis potensi lokal juga memiliki nilai penting dalam menjaga kearifan lokal dan pemanfaatan sumber daya alam secara kreatif.
Kepala Desa Teppo, Firmansyah, optimistis bahwa langkah yang dilakukan bersama ITB Nobel Indonesia dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.
“Ini adalah langkah awal yang baik. Kami percaya, dengan inovasi dan adaptasi teknologi, serta semangat kewirausahaan yang ditanamkan oleh kampus Home for Entrepreneur, produk kerajinan dari Patampanua akan mampu bersaing di era digital,” tutup Firmansyah.
Seminar tersebut menjadi pengingat bahwa desa tidak hanya memiliki sumber daya alam, tetapi juga memiliki sumber daya manusia dan kreativitas yang dapat menjadi kekuatan ekonomi. Dengan pendampingan yang tepat, daun pisang, daun lontara, dan berbagai potensi lokal lainnya bukan sekadar bahan alam, melainkan dapat menjadi bagian dari cerita baru tentang UMKM Patampanua yang tumbuh, berinovasi, dan mampu menembus pasar yang lebih luas.











