ELINE.NEWS, MAKASSAR – Bagi sebagian orang, prestasi akademik dan pendidikan agama sering kali dipandang sebagai dua jalan yang berbeda.
Namun, di Ranu Harapan Islamic School (RHIS), keduanya justru tumbuh berdampingan. Kisah Muhammad Farid Hidayat menjadi salah satu buktinya.
Di usia remajanya, siswa kelas IX RHIS itu tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam bidang tahfidz dengan hafalan 2 juz Al-Qur’an, tetapi juga menorehkan prestasi di dunia akademik.
Ia pernah dipercaya mewakili sekolah pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, dan kini mengemban amanah sebagai Ketua OSIS RHIS.
Bagi kedua orang tuanya, Andi Tenri Soraya dan Dedy Indrawan Darsan, pencapaian tersebut bukanlah sesuatu yang datang secara instan.
Di balik keberhasilan sang putra, ada proses panjang yang dibangun melalui disiplin belajar, dukungan keluarga, dan lingkungan pendidikan yang terus mendorong anak untuk berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
BACA JUGA : Perjalanan Menuju Juz 28, Ketika Dukungan Orang Tua dan Guru Menjadi Energi bagi Seorang Penghafal Al-Qur’an
“Alhamdulillah, perkembangan Farid dalam pendidikan formal sangat baik. Matematika menjadi salah satu bidang yang paling menonjol. Kami sangat bersyukur ketika ia diberi kepercayaan mewakili sekolah pada OSN Matematika, dan sekarang juga dipercaya menjadi Ketua OSIS,” tutur Andi Tenri Soraya.
Menurutnya, kepemimpinan yang mulai tumbuh pada diri Farid menjadi nilai yang tidak kalah penting dibandingkan prestasi akademik. Baginya, seorang anak tidak hanya perlu cerdas, tetapi juga harus belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan mampu menjadi teladan bagi teman-temannya.
Di sisi lain, pendidikan agama juga menjadi perhatian utama keluarga. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Farid telah mengenyam pendidikan di sekolah Islam terpadu sehingga memiliki dasar hafalan Al-Qur’an yang kemudian terus dikembangkan saat bersekolah di RHIS.
“Alhamdulillah, dari sisi agama juga berkembang dengan baik. Sebelumnya Farid memang berasal dari sekolah dasar Islam terpadu sehingga sudah memiliki bekal hafalan. Di RHIS hafalan itu terus dibimbing dan dikembangkan,” katanya.
Bagi keluarga ini, keberhasilan pendidikan bukan ditentukan oleh nilai rapor semata. Mereka ingin melihat Farid tumbuh menjadi pribadi yang mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan, akhlak, dan kepemimpinan.
Karena itu, Andi Tenri Soraya dan suaminya selalu memberikan dukungan terhadap setiap kegiatan yang diikuti putra mereka, baik di bidang akademik, organisasi, maupun keagamaan.
“Kami sebagai orang tua selalu mendukung Farid agar terus berkembang, baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan agamanya. Kami juga mendukung semua kegiatan yang diikutinya di sekolah karena kami ingin ia mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga ketika kelak terjun ke masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencetak siswa yang pintar menjawab soal, tetapi juga membentuk karakter, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan memimpin dengan nilai-nilai yang baik.
Harapan terbesar keluarga adalah agar Farid kelak menjadi pribadi yang sukses, tidak hanya dalam karier dan pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sebagai seorang muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman.
Kisah Muhammad Farid Hidayat menjadi gambaran bahwa ketika keluarga dan sekolah memiliki visi yang sama, anak-anak dapat tumbuh secara utuh. Prestasi akademik, kemampuan memimpin, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an bukanlah pilihan yang harus dipisahkan, melainkan bekal yang dapat berjalan beriringan untuk membentuk generasi Qurani yang unggul.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, RHIS berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial.
Pada diri Farid, kedua orang tuanya melihat secercah harapan bahwa ilmu dan akhlak akan selalu menemukan jalannya jika ditanamkan sejak dini.











