ELINE.NEWS, MAKASSAR – Roda perekonomian Kota Makassar tidak hanya digerakkan oleh para pekerja formal di gedung-gedung perkantoran bertingkat.
Jauh di nadi kota, denyut ekonomi sesungguhnya dihidupkan oleh ribuan pekerja sektor informal mulai dari pedagang kaki lima, pengemudi ojek online, nelayan pesisir, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sayangnya, kelompok pekerja mandiri atau Bukan Penerima Upah (BPU) ini sering kali berada di garis terdepan dalam menghadapi risiko sosial-ekonomi tanpa adanya jaring pengaman yang memadai.
BACA JUGA : BPJS Ketenagakerjaan dan DJP Perkuat Sinergi untuk Tingkatkan Kepatuhan Pajak dan Perlindungan Pekerja
Merespons urgensi tersebut, Pemerintah Kota Makassar mengambil langkah intervensi strategis dengan menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Bertempat di kawasan bersejarah Lapangan Karebosi, Jumat (19/6), kedua instansi ini secara resmi meluncurkan program “Perisai Keagenan” (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia).
Sebuah terobosan sistematis yang dirancang untuk memperluas penetrasi jaminan sosial langsung ke jantung masyarakat.
BACA JUGA : Kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan dan RS Primaya,Pemkot Makassar Perkuat JHT Pekerja Rentan
Peluncuran yang dihadiri oleh ratusan elemen masyarakat, Tokoh terkait, dan perangkat daerah ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat.
Kehadiran dua pucuk pimpinan ini menjadi sinyal kuat bahwa negara dan pemerintah daerah benar-benar hadir untuk menekan angka kerentanan sosial di tengah masyarakat perkotaan.
Mengurai Kerentanan Pekerja Sektor Informal
Kondisi pekerja informal di kota-kota besar metropolitan seperti Makassar kerap kali dihantui oleh ketidakpastian.
Ketika seorang pekerja rentan mengalami kecelakaan kerja atau bahkan meninggal dunia, dampaknya tidak hanya berhenti pada hilangnya nyawa atau menurunnya produktivitas individu.
Lebih jauh, kejadian tak terduga tersebut berpotensi menciptakan efek domino yang melahirkan kemiskinan ekstrem baru bagi keluarga yang ditinggalkan.
Di sinilah program Perisai Keagenan hadir sebagai jawaban. Perisai merupakan sebuah inovasi perluasan kepesertaan dan perlindungan yang diinisiasi oleh BPJS Ketenagakerjaan melalui skema keagenan.
Sistem ini memberdayakan elemen masyarakat seperti tokoh agama, pengurus RT/RW, hingga komunitas lokal untuk menjadi perpanjangan tangan resmi BPJS Ketenagakerjaan.
Para agen ini bertugas untuk mengedukasi, mendaftar, serta mengelola iuran para pekerja informal di lingkungan mereka masing-masing.
Skema “Jemput Bola” yang Menembus Sekat Birokrasi
Dalam sambutannya di Lapangan Karebosi, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menggaris bawahi bahwa pola pendekatan administratif konvensional tidak lagi cukup untuk menjangkau masyarakat pekerja keras di lorong-lorong kota.
Masyarakat kerap merasa segan atau tidak memiliki waktu luang untuk mendatangi kantor cabang BPJS.
”Bagi para pekerja informal, waktu adalah uang. Pedagang pasar atau driver ojek online mungkin tidak bisa meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengurus administrasi pendaftaran jaminan sosial. Oleh karena itu, melalui Perisai Keagenan ini, kitalah yang mendatangi mereka. Ini adalah manifestasi nyata dari pelayanan publik berkonsep ‘jemput bola’,” tegas Munafri Arifuddin.
Pria yang akrab dengan gagasan pro-rakyat ini menambahkan bahwa jaminan sosial bukanlah fasilitas mewah eksklusif milik pekerja kantoran, melainkan hak asasi bagi seluruh tenaga kerja.
Munafri menekankan komitmen Pemerintah Kota Makassar untuk terus berkolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan demi memastikan tidak ada lagi celah bagi warga pekerja Makassar untuk tidak terlindungi.
”Kita ingin memutus rantai kemiskinan struktural. Jika kepala keluarga atau tulang punggung keluarga mengalami risiko kerja, anak-anak mereka harus tetap bisa sekolah, dan dapur keluarga harus tetap mengepul. Di situlah fungsi utama dari kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan ini,” tambahnya.
Target Universal Coverage dan Apresiasi Nasional
Di tempat yang sama, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Makassar.
Menurutnya, dukungan dari kepala daerah merupakan kunci utama kesuksesan akselerasi program jaminan sosial di tingkat daerah.
Saiful memaparkan bahwa target nasional BPJS Ketenagakerjaan saat ini adalah mencapai Universal Worker Coverage, di mana seluruh pekerja Indonesia memiliki tameng perlindungan.
”Makassar kembali menunjukkan tajinya sebagai kota metropolitan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan rakyatnya. Sinergi yang ditunjukkan oleh Bapak Munafri Arifuddin beserta jajarannya hari ini di Karebosi, kami harapkan dapat menjadi role model atau cetak biru bagi pemerintah kabupaten dan kota lainnya di seluruh penjuru Indonesia,” papar Saiful Hidayat di hadapan awak media.
Lebih rinci, Saiful menjelaskan bahwa melalui agen Perisai, masyarakat pekerja informal BPU cukup menyisihkan iuran yang sangat terjangkau per bulannya (mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah).
Dengan nominal yang lebih murah dari sebungkus rokok, pekerja sudah bisa mendapatkan dua program dasar yang sangat vital, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
”Manfaat JKK memberikan perlindungan tanpa batas biaya (unlimited) sesuai indikasi medis hingga pekerja sembuh. Sementara JKM memberikan santunan kematian sebesar Rp42 juta kepada ahli waris, ditambah beasiswa pendidikan untuk dua orang anak dari jenjang TK hingga Perguruan Tinggi dengan total maksimal Rp174 juta. Manfaat ini sangat masif dan mampu menyelamatkan masa depan keluarga,” jelasnya
Harapan dan Dampak Ekonomi Jangka Panjang bagi Makassar
Diundangkannya Perisai Keagenan secara masif di Kota Makassar diproyeksikan akan membawa multiplier effect (efek ganda) secara ekonomi.
Dengan hadirnya sistem keagenan, program ini tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru.
Para warga yang mendaftar sebagai agen Perisai akan mendapatkan insentif atau komisi resmi dari setiap kepesertaan dan iuran yang berhasil dihimpunnya, yang tentunya akan menambah pundi-pundi ekonomi rumah tangga sang agen.
Peluncuran di kawasan sentral Lapangan Karebosi pada hari Jumat yang cerah tersebut diakhiri dengan penyerahan simbolis atribut Perisai kepada perwakilan agen lokal, serta simulasi pendaftaran peserta via aplikasi.
Ke depan, Pemerintah Kota Makassar bersama BPJS Ketenagakerjaan menargetkan ribuan agen Perisai akan terbentuk dan menyebar di 15 kecamatan dan ratusan kelurahan se-Kota Makassar.
Dengan demikian, visi untuk mewujudkan iklim tenaga kerja Makassar yang aman, tangguh, dan sejahtera bukan lagi sekadar retorika di atas kertas, melainkan realitas yang dirasakan di setiap sudut lorong kehidupan warga Kota Daeng.











