ELINE.NEWS,MAKASSAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Stabilitas sektor jasa keuangan tercermin dari berbagai indikator utama pada sektor Perbankan, Pasar Modal, serta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang menunjukkan pertumbuhan positif. Sejalan dengan kondisi tersebut, OJK terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi, termasuk memanfaatkan momentum bulan Ramadan.
Baca juga : OJK SULSELBAR Edukasi 300 Santri Darul Istiqamah Maros tentang Keuangan Syariah
Periode Ramadan yang identik dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan transaksi masyarakat dinilai menjadi momentum strategis untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang aman, legal, serta sesuai kebutuhan.
Perkembangan Sektor Perbankan di Sulawesi Selatan
Mengawali tahun 2026, kinerja perbankan di Sulawesi Selatan menunjukkan kondisi stabil. Hal ini terlihat dari indikator total aset, dana pihak ketiga (DPK), dan penyaluran kredit yang tumbuh lebih tinggi pada posisi Januari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset perbankan tercatat tumbuh 5,90 persen (yoy) menjadi Rp212,19 triliun. Sementara itu, DPK tumbuh 7,83 persen (yoy) dengan nilai mencapai Rp145,27 triliun. Struktur DPK di Sulawesi Selatan didominasi oleh tabungan dengan pangsa 59,80 persen, diikuti deposito 24,22 persen, dan giro 15,99 persen.
Adapun penyaluran kredit tumbuh 5,56 persen (yoy) menjadi Rp173,03 triliun. Kredit produktif mendominasi penyaluran dengan pangsa 52,88 persen dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit. Di sisi lain, kredit konsumtif juga masih mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 8,08 persen.
Kinerja intermediasi perbankan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 118,99 persen dan rasio kredit bermasalah 3,99 persen.
Pertumbuhan Perbankan Syariah
Perbankan syariah juga menunjukkan kinerja positif pada Januari 2026. Total aset perbankan syariah tumbuh 26,19 persen (yoy) menjadi Rp21,20 triliun. Penghimpunan DPK meningkat 23,61 persen menjadi Rp14,69 triliun, sementara penyaluran pembiayaan tumbuh 25,16 persen menjadi Rp17,92 triliun.
Tingkat intermediasi perbankan syariah tercatat 122,00 persen, dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) berada di level 1,77 persen.
Kredit UMKM Didominasi Usaha Mikro
Porsi penyaluran kredit sektor UMKM di Sulawesi Selatan mencapai 36,32 persen dari total kredit atau senilai Rp61,58 triliun, dengan pertumbuhan 0,75 persen (yoy) pada Januari 2026.
Kredit UMKM didominasi oleh usaha mikro dengan pangsa 57,30 persen, diikuti usaha kecil 27,72 persen, dan usaha menengah 14,98 persen. Secara keseluruhan, kredit UMKM telah disalurkan kepada 909.544 debitur.
Perkembangan Industri Keuangan Non-Bank
Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Selatan sepanjang 2025 menunjukkan perkembangan yang relatif positif dan beragam antar industri.
Penyaluran pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 0,14 persen, modal ventura meningkat 7,97 persen, dan Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending tumbuh 34,56 persen.
Selain itu, total aset dana pensiun meningkat 8,28 persen, serta total penjaminan lembaga penjaminan tumbuh 36,64 persen. Sementara itu, total premi dan klaim asuransi tercatat mengalami kontraksi masing-masing sebesar -8,10 persen dan -16,82 persen.
Secara keseluruhan, dinamika kinerja IKNB tersebut menunjukkan sektor keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif dan adaptif.
Pasar Modal Semakin Diminati Masyarakat
Pasar modal di Sulawesi Selatan juga mengalami penguatan seiring meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi.
Jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) tumbuh 31,23 persen (yoy) menjadi 525.596 SID pada posisi Desember 2025.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada portofolio saham yang meningkat 40,46 persen, dengan akumulasi transaksi saham hingga Desember 2025 mencapai Rp41,87 triliun.
Untuk menjaga pertumbuhan pasar modal yang sehat dan berkelanjutan, OJK bersama pemerintah dan pemangku kepentingan menegaskan komitmen mempercepat reformasi pasar modal guna memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.
Edukasi dan Pelindungan Konsumen
Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadan, OJK juga menyelenggarakan Gerakan Nasional Literasi Keuangan Syariah (GERAK Syariah) melalui berbagai kegiatan seperti sosialisasi, edukasi keuangan syariah, talkshow, kompetisi video media sosial, serta kegiatan sosial.
Program GERAK Syariah berlangsung sejak 6 Februari hingga 17 Maret 2026, dan akan ditutup secara nasional pada 2 April 2026.
Hingga Februari 2026, OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah melaksanakan 51 kegiatan edukasi keuangan dengan total 631.813 peserta dari berbagai segmen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum.
Edukasi tersebut dilakukan secara kolaboratif bersama industri jasa keuangan dan pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, OJK juga menjalankan program OJK PEDULI (Penggerak Duta Literasi Keuangan). Hingga saat ini tercatat 1.116 Duta OJK PEDULI yang terdaftar dan dikelola oleh Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Layanan Konsumen OJK
Terkait layanan konsumen, hingga Februari 2026 tercatat 307 layanan yang terdiri dari 63 layanan pengaduan, 201 layanan pemberian informasi, dan 43 layanan penerimaan informasi.
Rinciannya meliputi:
118 layanan sektor perbankan
118 layanan fintech
44 layanan perusahaan pembiayaan
9 layanan asuransi
1 layanan pasar modal
10 layanan entitas non-IJK
Sementara itu, permohonan SLIK hingga Februari 2026 tercatat sebanyak 2.813 layanan, baik melalui layanan walk-in maupun online.











