News

Pengamat: Koperasi Desa Harus Jadi Mesin Ekonomi Baru, Bukan Menggantikan Ritel Modern

×

Pengamat: Koperasi Desa Harus Jadi Mesin Ekonomi Baru, Bukan Menggantikan Ritel Modern

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS,MAKASSAR — Wacana penutupan gerai ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret di sejumlah daerah kembali memantik perdebatan. Pengamat ekonomi yang juga Ketua PIKI Sulawesi Selatan, Boas Singkali menilai langkah tersebut bukan solusi tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di tingkat desa.

Menurutnya, keberadaan ritel modern selama ini justru menjadi salah satu “mesin ekonomi” yang telah berjalan dan menciptakan efek berganda, mulai dari penyerapan tenaga kerja, distribusi produk UMKM, hingga peningkatan aktivitas perdagangan lokal.

“Kalau ingin menggerakkan ekonomi desa, tidak perlu mematikan mesin ekonomi yang sudah ada. Yang harus dilakukan adalah menghadirkan mesin penggerak ekonomi baru,” ujarnya di Makassar, Jumat (27/2/2026).

Koperasi Harus Jadi Kompetitor Sehat

Boas menegaskan, koperasi desa (Kopdes) seharusnya didorong menjadi pesaing yang sehat bagi ritel modern, bukan tumbuh melalui kebijakan yang menutup ruang usaha pihak lain.

Ia menilai, dalam dunia bisnis, kompetisi justru menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi.

“Unit usaha yang tidak punya pesaing biasanya tidak berkembang pesat karena tidak memiliki tolok ukur. Koperasi desa harus berani bersaing, baik dari sisi pelayanan, kelengkapan produk, hingga strategi pemasaran,” jelasnya.

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa hingga 2024 terdapat lebih dari 130 ribu koperasi aktif di Indonesia, namun hanya sekitar 30 persen yang masuk kategori sehat dan produktif. Kondisi ini, kata Boas, menjadi indikator bahwa penguatan tata kelola jauh lebih penting dibandingkan proteksi pasar.

Masalah Klasik: Modal dan Profesionalisme

Ia mengungkapkan, kendala utama koperasi desa selama ini bukan pada keberadaan ritel modern, melainkan keterbatasan modal, manajemen yang belum profesional, serta akses pembiayaan yang minim.

Jika pemerintah serius menjadikan koperasi sebagai pilar ekonomi desa, maka intervensi yang dibutuhkan adalah:

akses pendanaan yang lebih prioritas dan berkelanjutan,

pelatihan manajemen bisnis modern,

digitalisasi sistem usaha,

serta rekrutmen SDM yang berpengalaman dan profesional.

“Semua usaha pasti ada risiko, tetapi risiko itu bisa dimitigasi jika dikelola oleh orang yang kompeten di bidangnya. Koperasi tidak boleh lagi dijalankan seadanya,” tegasnya.

Indikator Keberhasilan: Ekonomi Desa Mandiri

Boas menyebut indikator utama keberhasilan koperasi desa adalah ketika masyarakat tidak lagi bergantung ke kota untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jika koperasi mampu menyediakan barang dengan harga kompetitif, layanan yang baik, serta sistem distribusi yang efisien, maka perputaran uang akan terjadi di desa.

“Ketika kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi di desa, maka ekonomi lokal akan hidup, lapangan kerja terbuka, dan daya beli meningkat. Itu efek berantai yang sangat besar,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai lebih dari 50 persen. Artinya, jika pusat konsumsi bergeser ke desa melalui koperasi yang kuat, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan signifikan.

Harus Ekspansi Secara Masif

Agar mampu bersaing dengan jaringan ritel modern yang memiliki sistem logistik dan manajemen kuat, koperasi desa juga harus dikembangkan secara masif dan terintegrasi.

Boas menilai model ekspansi jaringan seperti yang dilakukan ritel modern bisa menjadi referensi, dengan tetap menyesuaikan pada karakteristik ekonomi lokal.

“Kalau ingin besar, pembukaannya harus masif di desa-desa. Setelah kuat, koperasi bisa naik kelas dan ekspansi ke wilayah terpencil lainnya,” ujarnya.

Dampak Jangka Panjang

Ia optimistis, koperasi desa yang dikelola secara profesional akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian, antara lain:

membuka lapangan kerja baru,

memperkuat rantai distribusi produk lokal,

meningkatkan inklusi keuangan,

serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan model tersebut, program pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi desa dinilai akan berjalan lebih efektif tanpa harus menutup usaha yang sudah lebih dulu beroperasi.

“Tujuannya bukan mengganti yang sudah ada, tetapi menumbuhkan kekuatan ekonomi baru. Kalau koperasi kuat, ritel modern tetap jalan, maka ekonomi akan tumbuh bersama,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *