Internasional

Krisis BBM Mengguncang Filipina: Harga Melonjak, Rakyat Terjepit, Pemerintah Didesak Bertindak

×

Krisis BBM Mengguncang Filipina: Harga Melonjak, Rakyat Terjepit, Pemerintah Didesak Bertindak

Sebarkan artikel ini

ELINE.NEWS, MANILA, FILIPINA — Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Filipina kian memanas. Setelah harga bensin dan solar melonjak dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah akhirnya angkat bicara dan menyiapkan sejumlah langkah darurat untuk meredam dampaknya terhadap masyarakat.

Data Department of Energy (DOE) Filipina menunjukkan harga BBM naik signifikan sepanjang Maret 2026, dengan kenaikan mencapai ₱3 hingga ₱5 per liter. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan di pasar internasional.

Baca juga: Akibat Perang AS vs IRAN

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi Filipina Raphael Lotilla menegaskan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga dan berupaya menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Kami memahami beban yang dirasakan masyarakat. Pemerintah sedang mengoordinasikan langkah-langkah untuk mengurangi dampak kenaikan harga ini, khususnya bagi sektor transportasi dan kelompok rentan,” ujar Lotilla dalam pernyataan resminya, dikutip dari laman DOE Filipina.

Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah perluasan subsidi bahan bakar bagi pengemudi angkutan umum, termasuk sopir jeepney dan bus. Program bantuan tunai ini ditujukan untuk menjaga tarif transportasi tetap terkendali dan mencegah lonjakan biaya hidup lebih lanjut.

Selain itu, Department of Transportation (DOTr) juga tengah mengkaji penyesuaian tarif transportasi secara selektif agar tidak terlalu membebani masyarakat, sekaligus menjaga keberlangsungan operasional pengemudi.

Di sisi fiskal, pemerintah melalui Department of Finance (DOF) membuka opsi peninjauan sementara pajak bahan bakar, meski langkah ini dinilai sensitif karena berpotensi memengaruhi penerimaan negara. Menteri Keuangan Filipina menekankan bahwa kebijakan tersebut akan dipertimbangkan secara hati-hati dengan melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Tak hanya langkah jangka pendek, pemerintah Filipina juga menyoroti pentingnya solusi jangka panjang. Presiden Ferdinand Marcos Jr. dalam pernyataan terpisah menegaskan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

“Krisis ini menunjukkan urgensi mempercepat pengembangan energi terbarukan dan memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Marcos Jr.

Pemerintah pun mendorong investasi di sektor energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan gas alam, serta mempercepat pembangunan infrastruktur energi domestik. DOE menyebutkan bahwa target bauran energi terbarukan Filipina akan terus ditingkatkan dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, para analis menilai tantangan masih besar. Ketergantungan Filipina pada impor minyak membuat negara ini sangat rentan terhadap gejolak global. Tanpa reformasi struktural yang kuat, krisis serupa berpotensi kembali terjadi di masa depan.

Sementara itu, di lapangan, masyarakat tetap menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Kenaikan harga BBM tidak hanya memukul sektor transportasi, tetapi juga mendorong naiknya harga kebutuhan pokok.

Dengan tekanan yang terus meningkat, efektivitas langkah pemerintah kini menjadi sorotan. Publik menanti apakah kebijakan yang disiapkan mampu benar-benar meredakan krisis, atau justru hanya menjadi solusi sementara di tengah badai energi global yang belum mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *