ELINE.NEWS,MAKASSAR — Di tengah aktivitas pedagang yang mulai menata dagangan dan pembeli yang berburu kebutuhan dapur, KPPU melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau harga dan pasokan bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan persaingan usaha sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Melalui pemantauan langsung di pasar tradisional, KPPU ingin memastikan tidak ada praktik penahanan pasokan maupun permainan harga yang dapat memicu lonjakan harga bahan pokok.
Baca juga : Indeks Persaingan Usaha 2025 Meningkat, KPPU Tegaskan Kompetisi Kunci Transformasi Ekonomi
Plt Kepala Kantor Wilayah VI KPPU Makassar, Hasiholan Pasaribu, mengatakan sidak sengaja dilakukan menjelang momentum hari besar keagamaan karena permintaan bahan pangan biasanya meningkat.

“Memang sidak ini kami lakukan mendekati perayaan Idul Fitri. Tujuannya untuk menjaga kestabilan komoditas pangan. Minggu lalu sebenarnya sudah ada sidak dari pemerintah daerah, tetapi kami ingin memastikan kembali bahwa harga di pasar tidak mengalami kenaikan yang tidak wajar,” ujarnya di sela pemantauan.
Dalam kegiatan tersebut, KPPU juga didampingi oleh perwakilan Bank Indonesia dan Perum Bulog untuk memastikan kondisi pasar dipantau dari berbagai aspek, mulai dari distribusi hingga ketersediaan stok.
Dari hasil pemantauan di lapangan, sejumlah komoditas pangan memang mengalami kenaikan harga. Namun kenaikan tersebut dinilai masih relatif kecil dan belum menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Hasiholan menyebut beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain daging ayam, telur, dan cabai. Kenaikan harga yang ditemukan berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
“Ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan seperti daging ayam, telur, dan cabai. Namun secara persentase kenaikannya masih kecil, sekitar satu sampai dua persen saja,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai biasanya dipengaruhi oleh faktor cuaca yang berdampak pada produksi di tingkat petani sehingga pasokan di pasar bisa berfluktuasi.
“Untuk cabai, faktor cuaca memang cukup berpengaruh terhadap pasokan sehingga harga di pasar bisa berubah lebih cepat,” jelasnya.
Selain itu, KPPU juga mencermati kemungkinan dampak dari program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap peningkatan permintaan beberapa komoditas pangan, terutama telur dan daging ayam.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang di pasar, permintaan terhadap kedua komoditas tersebut memang sedikit meningkat. Meski demikian, pasokan hingga saat ini masih dinilai mencukupi.
“Pedagang menyampaikan bahwa permintaan terhadap telur dan ayam sedikit meningkat, tetapi sejauh ini pasokan masih aman,” kata Hasiholan.
Dalam sidak tersebut, KPPU juga memantau harga minyak goreng, termasuk produk bersubsidi Minyakita yang memiliki harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Berdasarkan hasil pengecekan di pasar, harga minyak goreng tersebut masih berada dalam batas yang ditentukan.
Hasiholan menegaskan bahwa kegiatan monitoring ini merupakan langkah mitigasi awal untuk mencegah potensi pelanggaran persaingan usaha, seperti penahanan pasokan atau pengaturan distribusi oleh pelaku usaha.
“Monitoring ini penting untuk memastikan tidak ada distributor atau produsen yang sengaja menghambat pasokan atau distribusi. Jika ditemukan indikasi pelanggaran, tentu akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa KPPU memiliki kewenangan untuk melakukan investigasi apabila ditemukan dugaan praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat dalam proses perdagangan komoditas pangan.
“Jika dalam proses pemantauan kami menemukan perilaku yang mencurigakan dalam proses niaga, maka akan dilakukan mitigasi awal dan pemanggilan pihak terkait. Jika masuk dalam kewenangan KPPU, akan dilanjutkan ke tahapan penegakan hukum,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Karmila Hasmin Marunta, memastikan stok beras di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat masih dalam kondisi aman.
Ia menyebutkan bahwa saat ini stok beras Bulog di wilayah tersebut mencapai sekitar 526 ribu ton.
“Untuk saat ini stok beras Bulog mencapai sekitar 526 ribu ton. Kami bersama KPPU, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah terus memantau harga beras medium dan premium serta minyak goreng di pasar,” ujarnya.
Menurut Karmila, sejak awal Ramadan hingga menjelang Idul Fitri, harga beras dan minyak goreng di pasar masih terpantau stabil.
“Kami rutin melakukan pemantauan harga di pasar-pasar di Makassar dan sejauh ini kondisi harga masih terkendali,” katanya.











